Friday, November 25, 2005

Shalawat

Oleh : Agus Syarif Hidayatullah


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (al-Ahzab, 56).

Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa makna shalawat disini adalah pemberkahan atas Rasulullah SAW. Al-Mubarrad menegaskan bahwa kedudukan shalawat adalah simbol kasih sayang, sedangkan dari Allah merupakan rahmat dan dari malaikat berupa kerendahan diri sekaligus permohonan rahmat dari Allah untuk Nabi akhir zaman, Muhammad SAW.

Oleh karena ayat di atas turun kepada Rasulullah SAW, maka Allah SWT memerintahkan para sahabat Rasulullah agar memberi salam kepadanya semasa hidupnya juga kepada umatnya saat menziarahi kuburannya atau saat nama Rasullullah Muhammad SAW disebut.

Salam mempunyai tiga pengertian :
  1. "Selamat kepada engkau ya Rasulullah" yang berarti keselamatan menyertaimu.
  2. As-Salam melindungimu dan memeliharamu. As-Salam adalah satu diantara nama-nama Allah yang baik (Asma'ul Husna)
  3. Salam yang berarti penyerahan dan ketundukan.

Hukum memberikan shalawat kepada Rasulullah SAW adalah wajib sekali seumur hidup, sedangkan selebihnya adalah sunnah. Menurut Imam Syafi'i yang diwajibkan adalah ketika di dalam shalat (dalam tasyahud akhir) sedangkan lainnya merupakan ibadah sunnah. Imam Malik masih memberi kelonggaran. Apabila tidak mengucapkan shalawat dalam tasyahud maka shalatnya sah, karena itu hanya sunnah saja, walaupun meninggalkankannya adalah tidak bagus.

Baginda Rasulullah SAW mengajari umatnya waktu dan tempat yang terbaik untuk membaca shalawat kepadanya. Saat beliau mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dan tidak bershalawat kepadanya, beliau mengatakan; “secepat itukah!”, lalu beliau bersabda: "apabila salah seorang dari kamu berdoa dan shalat maka ucapkanalah kalimat hamdalah/tahmid kemudian bershalawatlah dan setelah itu berdoalah sesuka hatimu”(HR. Abu Dawud).

Umar ibn Al-Khattab RA berkata, “Doa dan shalat menggantung di antara bumi dan langit. Keduanya tidak akan naik kepada Allah sampai pelakunya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW". ( H.R. Turmudzi).

Ibnu Atha' mengatakan, “Doa mempunyai rukun, sayap, sebab dan waktu. Apabila tercukupi rukunnnya maka kuatlah, apabila kuat sayapnya maka akan terbang keatas langit, apabila tepat waktunya beruntunglah, dan apabila dilakukan sebabnya maka sukseslah. Rukun berdoa adalah kehadiran hati, kerendahan diri, ketenangan, kekhusyukan dan bergantungnya hati kepada Allah SWT. Sedangkan sayap doa adalah kejujuran dan waktunya adalah ketika sahur (sepertiga malam terakhir) dan sebabnya adalah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW".

Di antara waktu sunnahnya bershalawat kepada Rasulullah SAW adalah ketika mendengar namanya disebut, ditulis atau setelah azan berkumandang. Ini sesuai dengan sabdanya, “betapa pelitnya seseorang apabila disebut namaku dan tidak bershalawat kepadaku” (HR. Turmudzi).

Saat memasuki mesjid, seseorang dianjurkan untuk membaca shalawat lalu dilanjutkan dengan membaca doa masuk mesjid “Allahummagfirli dzunubi, waftah li abwaba rahmatik”: Ya Allah ampunilah dosaku dan bukalah pintu-pintu rahmat-Mu. Juga bershalawat sunnah dilakukan saat melakukan tasyahud (tahiyyat) dalam shalat dan takbir kedua pada shalat janazah. Shalawat juga sudah menjadi kebiasaan umum dilakukan dalam penyampaian khutbah jum'at dan tulisan-tulisan keagamaan. Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa menulis shalawat kepadaku dalam karyanya, tersebutlah malaikat memohonkan ampun selama namaku ada dalam tulisan itu” (HR. Thabrani).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian mendengar adzan ucapkanlah apa yang diucapkan muazin (orang yang azan) dan bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali saja maka Allah bersahalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah bagiku, karena itu adalah tempat di surga yang tidak diperuntukan kecuali bagi hamba-hamba Allah dan aku berharap Aku berada disana. Barang siapa yang menjadikanku wasilah, ia akan mendapat syafaat (pertolongan)-ku di hari akhir". (HR. Muslim). Wallahu A’lam bisshawab.

Nomor 14/Edisi IV/Th.I

Do'a

Mohon Keturunan Yang Baik

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين إماما.

"Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa".

Wahai Tuhan kami, berilah kami pendingin mata dari isteri kami dan keturunan kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang taqwa.
(Q.S Al Furqaan: 74)

Mintalah Kepadaku

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun . Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:

  1. Menegakkan keadilan diantara manusia serta haramnya kezaliman diantara mereka merupakan tujuan dari ajaran Islam yang paling penting.
  2. Wajib bagi setiap orang untuk memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala.
  3. Semua makhluk sangat tergantung kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya baik dalam perkara dunia maupun akhirat.
  4. Pentingnya istighfar dari perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya.
  5. Lemahnya makhluk dan ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan.
  6. Wajib bagi setiap mu’min untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat-Nya dan taufiq-Nya.
  7. Sesungguhnya Allah ta’ala menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya.
  8. Dalam hadits terdapat petunjuk untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa

Friday, November 18, 2005

Wanita Shalihah

Oleh : Chadijah Abdullatif Purba


Makna shalihah

Shalihah adalah kata sifat yang berarti baik. Dalam bahasa Arab imbuhan ta’ marbutah (ة) di akhir sebuah kata sifat menunjukkan bahwa sesuatu yang disifati tersebut adalah muannats (perempuan).

Wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah (godaan) bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.

Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia "polos" tanpa make up sedikitpun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.

Keutamaan wanita shalihah

Kemuliaan dan keutamaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة - رواه مسلم

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim)

Begitu juga ketika Umar RA bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau menjawab:

ليتخذ أحدكم قلبا شاكرا ولسانا ذاكرا وزوجة مؤمنة تعين أحدكم على أمر الآخرة. رواه ابن ماجه

“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah (shalihah) yang akan menolongmu dalam perkara akhirat” (HR. Ibnu Majah)

Sifat-sifat wanita/istri shalihah

Allah SWT berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ

“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up-nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.

Wanita shalihah sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah). Ia juga selalu menjaga akhlaknya, rasa malu, sehingga dengan demikian segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol

Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain.

Anjuran dan kiat menjadi wanita shalihah

Islam melalui lisan Al Quran dan Al Hadits senantiasa menganjurkan wanita-wanita muslimah agar menjadi shalihah. Menjadi wanita shalihah adalah idaman setiap muslimah. Karena wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, mengalahkan tumpukan emas, intan dan permata serta perhiasan dunia apapun juga, hanya wanita shalihahlah yang mampu melahirkan generasi rabbani (agamis) yang selalu siap memikul risalah Islamiyah (agama Islam) menuju puncak kejayaan.

Namun, menjadi wanita shalihah bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu ada beberapa kiat untuk menjadi wanita shalihah.

Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmu dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah SAW seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.

Banyak wanita bisa sukses namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, "Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya"

Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah.

Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang anak yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitupun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi

Mulialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga.

Subhanallah, teramat besar karunia Allah. Sungguh segala puji bagi Allah. Sudah semestinya kita berusaha menjadikan sosok seorang muslimah sebagai pribadi kita. Renungkanlah!. Apakah kita sudah termasuk seorang muslimah shalihah?

Sungguh, penulispun berharap bisa menjadi muslimah shalihah. Berniatlah karena Allah dan berusahalah untuk menjadi lebih baik. Teladani para istri Rasulullah. Jadikanlah ini sebagai amal yaumi (rutinitas harian) menuju keridhaan Allah SWT. Insya Allah, dengan demikian, predikat muslimah shalihah bisa direngkuh. Amin.
Nomor 13/Edisi IV/Th.I

Do'a

MASUK TOILET ATAU KAMAR MANDI

اللهم إنى اعوذبك من الخبث والخبائث


Allaahumma inni a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaaits.

Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Engkau dari gangguan syaitan laki-laki dan syetan perempuan.
(H.R Bukhori-Muslim

Friday, November 11, 2005

Mukjizat Angka Dalam Al Qur'an

Oleh : Med Hatta.


Angka adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bagaimana tidak, setiap manusia mempunyai 1 kepala, 2 tangan, 2 kaki, dan seterusnya. Namun hakikatnya, tidak sesederhana itu. Orang Mesir kuno pada mulanya tidak mengenal angka, karena mereka lebih memperhatikan lukisan daripada hitungan. Tulisan heroglipnya dipergunakan untuk menggambarkan sesuatu. Misalnya, seorang istri pergi, dilukiskan dengan seorang perempuan sedang berjalan, dan sakit dilukiskan dengan perempuan sedang tidur.

Ketika angka bilangan berkembang lukisanpun berulang. Saat ingin mengatakan saya datang dengan istri-istri saya 3 orang ia melukiskan seorang laki-laki berjalan dengan gaya membungkuk di ikuti 3 perempuan dengan paras jelek. Dan jika sedang berlibur bersama 3 orang kekasihnya, ia melukis laki-laki tidur bersandar pada 3 orang perempuan yang molek dan centil. Akan tetapi, masalah muncul kemudian apabila angka tersebut semakin membengkak, bagaimana seorang pedagang di Alexandaria misalnya memesan 5000 ekor ikan? sedangkan untuk menggambar 5000 ekor ikan tersebut sudah pasti akan mengkonsumsi semua kertas papirus yang ada di seluruh mesir.

Bangsa Irak yang terkenal pemalas memiliki ekspresi lain. Mereka menciptakan hurup bunyi. Misalnya, mereka menggambar 3 ekor ikan dengan menuliskan: "tiga ekor ikan", 1000 ekor ikan dengan "seribu ekor ikan". Menyusul bangsa Romawi memperkenalkan angka-angkanya yang khas dengan garis-garis horizontal: III artinya tiga, V artinya lima dan seterusnya. Namun angka-angka ini tidak luput dari kelemahan. Ia akan terbentur disaat berhadapan dengan proses hitung menghitung. Bagaimana membagi, menambah dan mengali?. Bagaimana menulis 20 orang wanita dengan seratus buah lidi-lidi romawi tadi?. Disini dibutuhkan angka pembantu.

Titik lemah ini ditutup oleh ilmuwan India dengan memperkenalkan telor sebagai indikasi angka nol. Sepuluh ribu orang India meninggal karena kelaparan menuliskan angka 1 dengan empat butir telor dibelakangnya = 10000.

Demikianlah ilustrasi tentang kronologi perkembangan angka berdasarkan masa periodiknya hingga yang kita kenal sekarang ini. Namun yang menarik untuk dikaji dari fenomena angka tersebut adanya penyebutan angka dalam al-Qur’an yang mengandung nilai kemuk’jizatan yang tidak kita dapatkan dalam kitab suci manapun.

Berikut ini penulis akan mengetengahkan beberapa contoh saja yang menggambarkan ketinggian informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung didalam al-Qur’an.

JC. Batler, guru besar di Colleg du France pada tahun 1982 mengemukakan penemuannya bahwa umur bumi ini diperkirakan mencapai 18 milyar tahun. Spektakulerkah ide ilmuwan perancis ini?. Tidak. Penemuan Batler ini ternyata telah dikemukakan oleh al-Quran 14 abad yang lalu.

Contoh pertama dalam al-Quran, Allah SWT berfirman:

«Sesungguhnya satu hari disisi Tuhanmu adalah laksana hitungan seribu tahun menurutmu» (Q.S :Al Hajj : 47).

Firman Allah SWT yang lain:

«Para malaikat dan Jibril naik menghadap Allah dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun» (Q.S :Al Ma'arij : 4).

Allah tidak menyebutkan kalimat «lima puluh ribu tahun menurut perhitunganmu» pada ayat yang kedua karena hari yang dimaksud pada ayat tersebut adalah menurut perhitungan Allah (1 hari = 1000 tahun). Dan hari dengan hitungan inilah yang diyakini sebagai umur bumi, wallahu'alam, dengan perhitungan sebagai berikut :

(50.000 x 30 = 18.250.000) hari (menurut perhitungan Tuhan), sedangkan sehari bagi Tuhan sama dengan 1000 tahun hitungan manusia sebagaimana dalam Q.S :Al Hajj : 47.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa umur bumi semuanya adalah (50.000 x 30 = 18.250.000) hari Tuhan. Jikan angka ini dikalikan 1000 tahun (hari manusia) sama dengan (18.250.000.000) tahun manusia (baca: 18 milyar 250 juta tahun). Subhanallah…! Kalau hal ini menunjukkan suatu indikasi yang benar, maka penyebutan angka di dalam Al Qur'an sungguh merupakan mu'jizat yang sangat luar biasa.

Contoh kedua, Firman Allah yang berbunyi:

«dan mereka tinggal dalam goa mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun» (QS. Al Kahfi: 25).

Apakah rahasia dari kalimat "tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun"? kenapa Allah tidak menyebutkan langsung bahwa mereka tinggal di dalam goa selama 309 tahun?. Ternyata dalam konteks ini, Al Qur'an menyingkap rahasia dua penanggalan yang lumrah di pakai oleh umat manusia sekaligus yaitu Hijriyah dan Masehi (baca: Penanggalan Islam dan Penanggalan umum). Jika dihitung dalam penanggalan Masehi, maka Ashabul Kahfi (penghuni goa) berdiam di goa selama 300 tahun, sementara kalau dihitung dalam penanggalan Hijriyah, maka mereka berdiam di sana selama 309 tahun. Masehi lebih dahulu di sebutkan dari Hijriyah karena penanganggalan Masehi lebih tua dari penanggalan Hijriyah. Penjelasannya:

  1. 300 tahun Masehi = 300 x 365,2422 hari = 109572,66 hari
  2. 300 tahun Hijriah = 300 x 354,36056 hari =106310,11 hari

Perbedaan jumlah hari keduanya adalah 3262,55 hari. Maka jumlah tahun bagi keduanya adalah sebagai berikut:


@ 3262,55 : 354,36056 = 9,20669 tahun Hijriah (9 tahun)
@ 3262,55 : 365,2422 = 8,93256 tahun Masehi (88,9 atau 9 tahun).

Disini jelas bahwa Allah ingin mengenalkan kepada manusia dua konsep penanggalan dan menyerahkan kepada manusia untuk memilih penanggalan yang menenteramkan jiwa, kendatipun penanggalan Hijriah lebih spesifik milik umat Islam. Rasulullah bersabda : « Janganlah senang meniru orang Yahudi ». Wallahu'aalambishawab….

* Di saring dari Scripsi Licence Penulis tentang "Fenomena Angka di dalam Al Qur'an Dan Indikasinya", Univ. Al Qarawuyin Fak. Usuluddin Tetouan, Juli, Thn. 1999

Nomor 12/Edisi IV/Th.I

Pintu Harapan

Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Allah ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “ (Riwayat Turmuzi dan dia berkata : haditsnya hasan shaheh).


Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:

  1. Berdoa diperintahkan dan dijanjikan untuk dikabul-kan.
  2. Maaf Allah dan ampunannya lebih luas dan lebih besar dari dosa seorang hamba jika dia minta ampun dan bertaubat.
  3. Berbaik sangka kepada Allah ta’ala, Dialah semata Yang Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat dan istighfar.
  4. Tauhid adalah pokok ampunan dan sebab satu-satunya untuk meraihnya.
  5. Membuka pintu harapan bagi ahli maksiat untuk segera bertaubat dan menyesal betapapun banyak dosanya.

Do'a

MASUK MASJID

اللهم افتح لى ابواب رحمتك

Allahummaftah lii abwaaba rahmatik
Ya Allah bukalah untuku pintu-pintu rahmatmu ( H.R Muslim)

KELUAR DARI MASJID

اللهم انى اسألك من فضلك


Allahumma innii asaluka min fadlik
Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Engkau dari rahmatMU (H.R Muslim).

Friday, November 04, 2005

Syawal

Oleh : M Amar Adly.


عن أبي أيوب الأنصاري أن رسول الله قال: من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر. رواه مسلم وأبو داود
"Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, berarti dia telah berpuasa satu tahun" (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud).

Syawwal adalah nama bulan kesepuluh dari nama-nama bulan dalam tahun Hijriyyah. Tanggal 1 Syawwal setiap tahunnya merupakan Hari Raya Idul Fitri karena pada hari itu kaum muslimin merayakan hari kemenangan mereka setelah satu bulan lamanya berpuasa menahan nafsu.

Disamping anjuran bermaaf-maafan dan bersilaturrahmi, pada bulan Syawwal kita juga dianjurkan untuk berpuasa sebanyak enam hari.

Landasan Puasa Syawal

Puasa Syawwal bisa kita lihat dari sabda Rasululluh SAW yang diriwayatkan Abu Ayyub al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عن أبي أيوب الأنصاري أن رسول الله قال: من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر. رواه مسلم وأبو داود
"Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, berarti dia telah berpuasa satu tahun" (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud).

Hadits ini menjelaskan bahwa pahala orang yang berpuasa Ramadhan dan enam hari di bulan Syawwal sama pahala dengan puasa setahun. Hal itu karena satu pahala kebaikan nilainya sama dengan sepuluh kali kebaikan seperti yang ditegaskan oleh Allah SWT:

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
"Barangsiapa melakukan perbuatan baik, akan memperoleh pahala sepuluh kali lipat, dan barangsiapa yang melakukan perbuatan jelek maka dia tidak diberi ganjaran melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya". (QS. Al-An' am:160).

Jika satu kebaikan dihitung sepuluh pahala, berarti puasa Ramadhan selama satu bulan dihitung sepuluh bulan. Dan puasa enam hari di bulan Syawwal dihitung 60 hari atau dua bulan. Jadi total jumlahnya adalah satu tahun.

Hukum Puasa Syawal

Puasa Syawal hukumnya sunnah menurut madzhab Syafi’i, Hanafi dan Hanbali, sedangkan mazhab Maliki menghukumi makruh puasa tersebut. Karena ditakutkan adanya keyakinan dan anggapan bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal masuk puasa Ramadhan sehingga menjadi wajib hukumnya, apalagi jika dilakukan pada tanggal satu Syawwal . Namun apabila tidak ada kekhawatiran seperti alasan di atas, maka disunnahkan puasa enam hari dalam rangka berlomba-lomba untuk memperbanyak pahala.

Puasa Syawwal bisa dimulai setelah Hari Raya yaitu hari kedua bulan Syawwal sebab puasa pada hari raya hukumnya haram. Puasa Syawwal juga boleh dilakukan di pertengahan atau di akhir bulan Syawwal dan tidak harus berturut-turut enam hari, tapi apabila dilaksanakan secara berturut, lebih baik (afdhal) menurut madzhab Syafi’i, dan Hanbali.

Lain halnya dengan mazhab Hanafi mereka berpendapat lebih afdhal jika dilakukan dua hari dalam seminggu (Senin dan Kamis) selama bulan Syawwal. Sementara mazhab Maliki bukan hanya berpendapat puasa Syawwal lebih afdhal jika dilakukan secara berselang-seling, akan tetapi menghukumi makruh jika dilakukan secara berurutan .

Apabila seseorang {khususnya wanita} ingin berpuasa enam hari di bulan Syawwal dan berpuasa qadha’ (ganti) sebaiknya lebih mendahulukan puasa Syawwal karena mengingat waktunya sangat singkat yaitu bulan Syawwal saja, sementara puasa qadha’ (ganti), bisa dilakukan kapan saja sampai sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun berikutnya. Oleh sebab itu ketika Ummul Mukminin Aisyah RA berpuasa qadha’ (ganti) di bulan Sya’ban, Rasulullah SAW tidak menyalahkan sehingga menjadi sunnah taqririyyah.

Namun bagi yang ingin menggabungkan antara puasa qadha’ (ganti) dan puasa enam hari, cukup berniat puasa qadha’ (ganti) dibulan Syawwal, insya Allah ia akan mendapatkan dua ganjaran sekaligus, dengan syarat mendahulukan niat puasa qadha’ (ganti) karena puasa qadha’ (ganti) adalah wajib sedang puasa enam sunah hukumnya.

Hal tersebut disebabkan ia telah mencapai maksud anjuran Rasulullah SAW agar berpuasa di bulan Syawwal. Sama halnya dengan shalat tahiyyatul masjid, apabila seseorang memasuki masjid dan terus melakukan shalat fardhu berjemaah, maka ia akan mendapatkan ganjaran dua pahala yaitu pahala shalat fardhu dan pahala shalat tahiyyatul masjid, karena maksud daripada shalat tahiyyatul masjid sudah terpenuhi yaitu menghormati masjid dengan melaksanakan shalat ketika memasuki masjid sebelum duduk.

Hikmah puasa Syawal

Ada beberapa hikmah di balik anjuran berpuasa enam hari di bulan Syawwal diantaranya adalah:

Puasa enam di bulan Syawwal bisa dijadikan sebagai pengganti atau penyempurna puasa Ramadhan yang dikhawatirkan ada yang tidak sah atau kurang sempurna.

Selain dari itu, sebagai hamba Allah SWT, alangkah baiknya seandainya amalan puasa yang diwajibkan kepada kita di bulan Ramadhan ini, kita teruskan juga di bulan Syawwal walaupun hanya sekedar enam hari. Hal ini menunjukkan bahwa seolah-olah kita tidak melakukan ibadah puasa semata-mata karena suatu kewajiban, akan tetapi karena kita merasa sebagai hamba yang bersunguh-sungguh untuk taqarrub {mendekatkan diri} kepada Allah.

Ditinjau dari sudut kesehatan puasa enam hari di bulan Syawwal bertujuan untuk menjaga agar perut kita tidak kaget dan lepas kontrol makan dan minum, hal itu disebabkan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan menyebabkan sistem percernaam di dalam tubuh kita istirahat total di waktu siang, kedatangan bulan Syawwal menyebabkan seolah-olah ia mengalami kejutan dengan diberikan tugas mencerna berbagai macam hidangan hari raya. Oleh kerena itulah, puasa enam ini memberi ruang kembali kepada sistem pencernaan tubuh kita untuk beristirahat dan bertugas secara berangsur-angsur untuk kesehatan jasmani manusia itu sendiri.

Mari sama-sama kita berpuasa enam hari di bulan Syawwal sebagaimana yang dianjurkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1426H. Mohon Maaf Lahir Dan Batin Semoga Allah menerima shiyam dan qiyam kita, (amiiiiiin)
Nomor 11/Edisi IV/Th.I

Do'a

DO’A MEMAKAI PAKAIAN BARU

الحمد لله الذى كسانى هذا ورزقنيه من غير حول منى ولا قوة


Al Mamdu lillaahilladzii kasaanii haadzaa wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii walaa quwwah.

Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian kepadaku dan merizkikannya kepadaku tanpa daya tanpa kekuatan dari padaku.
( Dari Mu’adz bin Anas).