Friday, October 20, 2006

Dari Ramadhan Menuju Syawal

(Menjaga Kesinambungan Ibadah)

Oleh: Nasrullah Jasam, MA.

Bulan puasa yang sedang kita jalani ini sebentar lagi akan berakhir, bulan yang penuh berkah akan segera meninggalkan kita semua, bulan yang disebut oleh salah seorang pujangga Arab sebagai bulan revolusi karena semua aktivitas manusia berubah seratus delapan puluh derajat di bulan itu. Jika di bulan-bulan lain kita sarapan di pagi hari kemudian disusul makan siang dan setelah itu ditutup dengan makan malam, maka pada bulan puasa semuanya berubah total, kita hanya makan saat sahur dan saat berbuka puasa, waktunya pun hanya menjelang subuh sampai terbenamnya matahari. Ditambah lagi jika pada bulan-bulan biasa waktu kita dihabiskan dengan hal-hal seperti menonton televisi, bicara ngalor-ngidul, maka pada bulan puasa kita habiskan dengan membaca Al-Qur'an, beri'tikaf di Masjid, shalat tarawih berjamaah dan mungkin juga dengan shalat tahajjud.

Dengan demikian nyatalah bahwa bulan ramadhan bagi seorang muslim adalah bulan penggemblengan dan penempaan diri selama 29/30 hari. Dirinya ditempa sedemikian rupa diajarkan untuk bisa menguasai diri sehingga kelak mampu menghadapi 11 bulan yang akan ia jalani setelahnya. Pada 11 bulan itulah ujian yang sesungguhnya, dimana berhasil tidaknya puasa seseorang bisa dilihat dari ada atau tidaknya perubahan kearah yang lebih baik pada diri orang itu. Jika bulan ramadhan adalah bulan yang sangat agung, bulan yang penuh kebaikan, maka sesungguhnya seluruh bulan adalah merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik dan membekali diri untuk di hari akhirat kelak. Ibadah bukan hanya dilakukan di bulan ramadhan saja atau bulan-bulan tertentu tetapi hidup ini seluruhnya adalah ibadah, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 99 "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian".

Jadi sudah merupakan keharusan bagi kita untuk melanjutkan segala bentuk amal ibadah yang kita lakukan dengan giat dan penuh semangat pada bulan ramadhan baik itu ibadah shalat, puasa, berdzikir, shadaqoh dan ibadah-ibadah lainnya pada bulan berikutnya, karena sesungguhnya salah satu ciri diterimanya amal yang baik adalah diikuti dengan amal yang baik lagi.

Sekarang kita telah tiba di penghujung ramadhan dan akan segera menyambut bulan Syawal, kita tidak ingin amal ibadah kita terhenti dengan berakhirnya ramadhan, untuk itu kita harus terus berupaya memelihara "identitas takwa" yang mudah-mudahan kita dapatkan di bulan ramadhan ini, karena memang demikianlah sesungguhnya tujuan puasa.

Memelihara Dan Mempererat Tali Persaudaraan

Ada sebuah tradisi yang sangat baik di negara kita yang mungkin jarang kita temui di negara-negara lain, bahkan di Maroko pun saya tidak menemui tradisi ini, yaitu setiap setelah melaksanakan shalat ied orang muslim Indonesia selalu bersalam-salaman satu sama lain dengan penuh haru dan diiringi dengan permintaan maaf, hal ini biasanya dilakukan tidak cukup dengan hanya di Masjid saja setelah shalat ied tapi juga dilanjutkan dengan saling mengunjungi satu sama lain dengan membawa anggota keluarga, dan tukar-menukar makanan.

Disalah satu daerah di Jawa Tengah tepatnya kabupaten Banyumas, penduduknya memiliki tradisi membuat ketupat khas lebaran yang mereka sebut ketupat udhar luwar. Ketupat ini dirasa paling mewakili pengahayatan akan makna lebaran. Udhar luwar berarti lepas atau bebas, yaitu perasaan lepas dari berdosa terhadap Allah SWT karena telah melaksanakan puasa selama sebulan penuh juga merasa bebas dari rasa dengki, iri, dan dendam terhadap manusia. Semangat semacam inilah yang tersimpan dalam ketupat udhar luwar itu, oleh karenanya lebaran tidak akan lengkap jika tidak ada udhar luwar seperti tidak lengkapnya seseorang yang mengakhiri ramadhan karena dalam dirinya masih ada perasaan dengki, iri, dan dendam terhadap manusia.

Dengan demikian lebaran bisa dijadikan moment yang tepat untuk membangun rekonsiliasi. Sebagai manusia kita yakin pasti memiliki kesalahan terhadap orang lain baik disengaja atau tidak, mungkin kita pernah berbicara yang dapat menyinggung perasaan orang lain meskipun niatnya tidak demikian atau mungkin juga kita pernah bersikap kurang simpati sehingga menimbulkan rasa tidak suka terhadap orang lain. Kita yakin sebagai manusia yang tidak akan luput dari kealpaan, hal tersebut pernah kita lakukan. Mungkin di bulan-bulan lain kita merasa segan untuk sekedar meminta maaf, maka di saat lebaranlah yang paling tepat untuk melakukan itu. Dalam kontek ke-Indonesia-an, ini bisa tercermin dengan tradisi saling mengunjungi seperti telah disinggung diatas, dengan saling mengunjungi berarti menyambung kembali komunikasi yang pernah terputus dan merajut kembali tali persaudaraan. Bagi kita masyarakat Indonesia yang ada di Maroko mungkin rekonsiliasi ini bisa kita lakukan saat shalat ied berjamaah di KBRI dan acara-acara open house di kediaman para diplomat, meskipun selama ini kita sering bertemu baik saat acara berbuka puasa bersama ataupun acara-acara lainnya, tetapi hari lebaran tentunya memiliki "rasa" yang lain.

Perlu diingat, jika puasa bertujuan untuk membentuk manusia bertakwa, maka salah satu ciri orang bertakwa yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Ali 'Imran ayat 134 adalah "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang".

Sungguh sangat ideal jika kedua sifat ini ada dalam diri seseorang, tidak mudah marah dan jika marah sekalipun akan mudah memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah. Mungkin banyak orang yang bisa menahan marah tapi berapa banyak yang mudah memaafkan atau sebaliknya mungkin banyak orang yang mudah untuk memberikan maaf tapi berapa banyak yang bisa menahan amarahnya, oleh karena itu orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki dua sifat ini di dalam dirinya.

Puasa Sunah Syawal

Seperti sudah disinggung diatas bahwa salah satu ciri diterimanya amal kebaikan ialah dengan diikuti oleh amal kebaikan selanjutnya, setelah Allah mengaruniakan kita dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah, Allah SWT memberikan kepada kita amalan lain di bulan Syawal yaitu berupa puasa sunah Syawal selama 6 hari, puasa sunah ini memiliki ganjaran yang sangat luar biasa, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW Bersabda "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka seperti halnya puasa sepanjang tahun".

Dari hadist diatas jelas sekali bahwa seorang muslim yang telah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal (selain tanggal 1 Syawal karena puasa di hari tersebut hukumnya haram) maka pahalanya seperti puasa sepanjang tahun. Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan : hal tersebut dikarenakan setiap amal kebajikan mendapatkan ganjaran 10 kali lipat, puasa satu bulan Ramadhan sama dengan puasa 10 bulan, puasa 6 hari di bulan Syawal sama dengan puasa 60 hari (2 bulan), jadi jika dijumlah puasa satu bulan Ramadhan plus 6 hari bulan Syawal sama dengan puasa setahun. Tapi terlepas dari angka-angka yang dijelaskan oleh Imam Nawawi tadi sesungguhnya puasa Syawal banyak memiliki hikmah, antara lain:

menunjukkan bahwa umat Muhammad meskipun usianya secara nominal pendek dibanding umat-umat terdahulu tetapi memiliki amal ibadah dan ganjaran yang banyak sehingga jika dipergunakan dengan sebaik-baiknya secara kualitas akan melebihi umur umat nabi-nabi terdahulu.

Jika hal-hal yang kurang dalam shalat fardhu bisa ditambal dengan sholat sunnah rawatib, demikian juga dengan puasa ramadhan, mungkin dalam mengerjakan puasa ramadhan ada hal hal yang kurang atau berbuat sesuatu yang bisa mengurangi puasa maka hal tersebut bisa ditambal oleh puasa sunnah Syawal. Karena amalan sunnah bisa menyempurnakan amalan fardlu.

Puasa sunnah Syawal adalah sarana untuk menumbuh kembangkan iman serta memperkokoh taqwa yang merupakan tujuan puasa seperti yang Allah firmankan Wahai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas ummat ummat sebelum kamu supaya kamu sekalian menjadi orang orang yang bertaqwa

Sesungguhnya membiasakan diri untuk berpuasa setelah melaksanakan puasa Ramadhan adalah salah satu ciri diterimanya puasa Ramadhan. Karena seperti disebutkan diatas tadi bahwa salah satu cirri diterimanya amal kebajikan adalah melanjutkannya dengan amal kebajikan lain.

Demikianlah betapa banyak anugerah Allah kepada para hambanya, Anugerah Allah tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja tetapi juga di bulan bulan lain, oleh karena itu jika ingin berbuat baik tidak perlu menunggu Ramadhan tahun depan tapi sejak berakhirnya Ramadhan tahun ini sampai Ramadhan tahun depan kita bertekad untuk selalu berusaha mempertahankan nilai nilai puasa kita, berhasilnya dan tidak nya puasa kita tergantung sejauh mana pengaruh ibadah puasa tersebut dalam kehidupan kita di luar Ramadhan.

Kita sepakat bahwa setiap perintah Allah SWT. Kepada hamba Nya seperti sholat, haji, zakat Mengandung hikmah yang semuanya bertujuan untuk membentuk muslim yang kamil, begitu juga dengan ibadah puasa, jika kita melaksanakannya dengan penuh keimanan dan kekhusyu'an maka puasa tersebut akan memberikan ekses yang baik bagi kita tapi sebaliknya jika tanpa keimanan dan penghayatan Rasul menegaskan : "berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa2 dari puasanya kecuali lapar dan haus"

Tentunya kita tidak ingin puasa yang kita lakukan sia sia. Semoga Allah SWT. Menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan semoga mempertemukan kita dengan Ramadhan yang akan datang….Amiiin

Friday, October 13, 2006

Keutamaan dan hikmah ibadah I’tikaf

Oleh: Muhammad Nasir


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji kepunyaan Allah, dan dunia-langit serta isinya juga adalah kepunyaan Allah. Shalawat dan salam dengan tiada hentinya mari kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW, utusan terakhir dan pilihan Tuhan yang uswatun hasanah dan berakhlak mulia. Tidak lupa juga, doa keselamatan kita haturkan kepada para sahabat, tabiin, tabit-tabiin, ulama-ulama dan seluruh kaum muslimin. Semoga dalam proses ibadah puasa yang sedang kita jalani ini benar-benar menjadi ajang latihan sehingga keluar menjadi "alumni ramadhan" yang berkualitas. Latihan beribadah yang merupakan kesempatan emas yang tinggal 16 hari lagi mari kita evaluasi, cek dan renungkan apa yang kurang, bagaimana agar lebih efektif, efisien dan menghasilkan sesuatu yang berharga bagi kita kaum muslimin. Dalam buletin jumat kali ini.

Itikaf secara bahasa adalah tinggal di masjid dengan niat tertentu karena taat kepada Allah SWT. Itikaf yang hukumnya sunnah muakkadah adalah bagian ibadah di bulan ramadhan. Azam berkata : sebetulnya disunahkan bagi kaum muslimin semampu dan semaksimalnya mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah guna meminta pahalaNya dan mengikuti jejak Rasulallah-Nya, karena beliau telah terus-menerus melaksanakan itikaf di setiap bulan ramadhan. Dalilnya adalah pertama, telah sepakat para ulama bahwasannya itikaf itu telah disyariatkan. Kedua, dari Aisyah RA bahwasannya nabi SAW beritikaf di sepuluh terakhir bulan ramadhan, itu dilakukan sampai akhir hayatnya. Sepeninggalan nabi, istri-istrinya dan para sahabat melanggengkan ibadah itikaf ini (HR Bukhari Muslim).

Ibadah kepada Allah, apapun macam dan namanya mempunyai aturan dan petunjuk sebagaimana yang disuritauladankan nabi Muhammad SAW. Agar ibadah itikaf ini sesuai apa yang diharapkan, maka paling tidak kita mesti mengikuti langkah-langkah yang dicontohkan nabi. Langkah-langkah itu adalah

(1) Rukun itikaf, ini terdiri dari: Satu, niat adalah sesuatu yang urgen dan asasi karena kekokohan niat akan berimplikasi atau berefleksi berbanding lurus dengan niat itu sendiri. Segala rencana dan tujuan di dunia ini tergantung niat, makanya Rasuluallah SAW bersabda: "Sesungguhnya segala perbuatan atau amal itu tergantung pada niat....(HR. Bukhari). Kedua, berdiam di masjid, ini sesuai dengan firman Allah: "....Dan telah Kami perintahkan kepada Ibarahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku dan yang sujud". (QS. Al-Baqarah 125).

(2) Tempat dan waktu. Tempatnya seperti disinggung di atas adalah di masjid, adapun waktunya adalah sepuluh terakhir bulan ramadhan, meski demikian boleh juga dari awal sampai akhir ramadhan.

(3) Etika itikaf. Itikaf mempunyai etika, disunahkan bagi orang yang beritikaf memegang etika ini agar amalannya diterima. Tatkala orang tersebut menjaga etika maka pahala akan diperoleh dari Allah SWT. Disunahkan juga kepada orang yang beritikaf menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran, berdoa dan berdikir kepada Allah, menjauhi perkataan dan perbuatan yang tidak berguna dan ketaatan-ketaatan lainnya. Hal yang penting lagi adalah jangan dijadikan ajang ngerumpi yang membuang-buang waktu. Begitu juga ada orang yang meninggalkan pekerjaannya demi melaksanakan itikaf, dalam hal ini boleh apabila telah mendapatkan izin dari istri misalnya. Hanya saja menjadi kurang bijak apabila meninggalkan tanggung jawabnya, misalnya dengan meninggalkan pekerjaan. Karena menafkahi istri wajib dan itikaf hukumnya sunah, maka dahulukan menafkahi istri.

(4) Larangan itikaf. Pertama, itikaf gugur apabila keluar dari masjid kecuali untuk buang air kecil, bersuci, makan dan kebutuhan lainnya. Kedua, mencampuri wanita, firman Allah SWT : "...... janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid....." (Al-Baqarah 187). Ketiga, apabila perempuan yang beritikaf haid atau nifas maka wajib baginya keluar dari masjid untuk menjaga kebersihan masjid. Keempat, wanita yang sedang beritikaf yang ditinggal suami meninggal dunia maka menunaikan ibadahnya adalah di luar mesjid. Keenam, orang murtad tidak sah itikafnya.

Pendidikan.

Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam itikaf. Pertama, sosialisasi definisi ibadah secara universal. Itikaf mengoriginalkan kepada yang melakukannya definisi ibadah akan hak Allah Azza wa Jalla, dimana manusia diciptakan tiada lain untuk beribadah, firmanNya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mangabdi kepada-Ku. (QS: Adz-Dzaariyat 56), dimana manusia telah menghibahkan diri dan waktu semuanya untuk ibadah.

Kedua, mendapatkan lailatul qodar, yaitu salah satu tujuan dari itikafnya Rasulallah SAW dimana beliau memulai itikafnya di awal ramadhan kemudian memasuki pertengahan guna mendapatkannya. Tatkala beliau mengetahui bahwasannya lailatul qodar di sepuluh terakhir ramadhan, maka beliau hanya beritikaf di sepuluh terakhir itu.

Ketiga, membiasakan tinggal di masjid. Orang yang beritikaf diharuskan tinggal di masjid dengan waktu yang ditentukan. Terkadang orang yang beritikaf secara kemanusiaan merasa tidak betah di permualaan itikaf, akan tetapi rasa tidak betah ini dengan cepat akan jungkir balik secara pembelajaran dimana jiwa seorang muslim akan merasakan nyaman dan tumaninah berdiam di masjid.

Keempat, lebih jauh pentingnya tinggal/itikaf di masjid berimplikasi pada: a-Orang yang mencintai tinggal di masjid dan mengetahui kapasitas rumah Allah, dimana ini mempunyai nilai di sisiNya; yaitu golongan yang dilindungi Allah di hari yang tidak ada lindungan kecuali lindunganNya. b-Orang yang tinggal di masjid sambil menunggu shalat, menunggunya sama dengan pahala mengerjakan shalat dan malaikat meminta ampunan kepada Allah untuknya. Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya malaikat mendoakan kalian selama di masjid dan dalam keadaan suci; Ya Allah ampunilah dan kasihanilah......(HR. Bukhari). c-Jauh dari kehidupan mewah dan zuhud dalam urusan dunia. d-Mengenyahkan kebiasaan-kebiasaan yang non produktip. e-Pembelajaran sabar yang terus-menerus, sabar dari mengekang diri, makanan, istri, kasur empuk dan banyak lagi.


Tujuan itikaf

Tujuannya antara lain untuk mendapatkan lailatul qadar, bersama dengan Allah Azza wa Jalla dan sebisa mungkin sedikit hubungan dengan banyak manusia sehingga hatinya jinak dengan Allah SWT, memperbaiki hati, memaksimalkan untuk ibadah: membaca Al-Quran, shalat, berdoa dan berdikir, menjaga kualitas puasanya dari hawa nafsu, meminimalisir dalam keduniaan dan mampu berinteraksi dengan apa adanya.

Universitas ruhani tertinggi

Di dunia pesantren dikenal nama tirakat, yaitu menjalani kehidupan dengan sesederhana mungkin. Kata tirakat bahasa tempatan yang pada mulanya adalah tarekat. Itikaf yang sesuai dengan aturan akan menghasilkan pribadi-pribadi tanggguh dan unggul. Kita ambil contoh kecerdasan emosional/akhlak ini menempati point paling tinggi daripada cara berpikir dan adat bawaan seseorang. Seperti baru-baru ini pemilihan hakim agung dari 49 orang calon yang terjaring hanya beberapa orang, yang lainnya tidak masuk kategori karena cacat akhlak. Jadi disini terlihat sekali biasnya nilai akhlak sangatlah penting bahkan mempunyai skor 35 point, lainnya 20-an.

Madhab falsafah juga menyinggung masalah ruhani ini, dimana hakekat tertinggi manusia ditentukan oleh akhlaknya, artinya sehebat apapun orang itu bila ahklaknya minus tidak mustahil akan lebih hina daripada hewan. Memang tidak mudah untuk mencapai maqom itu (universitas ruhani tertinggi) dan memang tidak sembarang orang bisa melakukan itikaf dengan baik dan benar. Mudah di teori, butuh perjuangan dan kesabaran dalam tataran praktek. Tapi bukan tidak mungkin apabila kita sering riyadhah latihan sedikit demi sedikit akan mencapai maqomnya. Riyadhah yang intensif juga tidak ada artinya kalau makanan yang kita makan dari barang haram. Alangkah dahsyatnya apabila zat halal menyatu dan bertemu dengan zat/nilai-nilai yang maha luhur dari Tuhan.

Dengan melakukan itikaf yang baik dan benar seperti diterangkan di atas, seorang mutakif akan mendapatkan hikmah dan keutaman tentunya. Semoga kita meraih menejmen qalbunya ala Rasul, amien. Wallahu Alamu Bishawab.

Saturday, October 07, 2006

Nuzul Al-Quran (Turunnya Al-Quran)

Oleh : Rachmat Morado

1- Pembagian turunnya Al-Quran

a. Turunnya seluruh Al-Quran dalam satu waktu (daf’ah wahidah).

Maksudnya adalah turunnya seluruh Al-Quran dari lauh mahfuzh (papan taqdir) dalam satu waktu ke langit dunia. Turunnya Al-Quran dengan cara ini turun pada 10 akhir bulan Ramadhan yang kita kenal dengan Lailatul Qadar (malam penghargaan/ kemuliaan). Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu kesejahteraan sampai terbitnya fajar”.

Qadhi Iyyadh mengatakan sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim bahwa lailatul qadar terjadi setiap tahun dari turunnya ayat ini pada zaman Rasulullah di hari 10 akhir bulan ramadhan sampai hari kiamat nanti. Dalilnya sabda Rasulullah SAW: “Carilah lailatul qadar pada hari 10 akhir bulan ramadhan”.

b. Turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur (munajjaman).

Maksudnya adalah turunnya Al-Quran ayat per-ayat atau surat per-surat dalam waktu 23 tahun: yaitu masa diutusnya Rasulullah, Al-Quran turun secara berangsur-angsur dari langit dunia kepada Rasulullah SAW. Jumhur (kebanyakan) ulama mengatakan bahwa awal surat turun kepada nabi Muhammad SAW adalah surat Al-‘Alaq, ayat satu sampai lima yang artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan qalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya".

Surat Al-‘Alaq ini turun pada hari senin malam 17 ramadhan. Berarti kita sekarang memperingati awal turunnya Al-Quran kepada nabi Muhammad SAW.

2- Keutamaan Al-Quran

Al-Quran sebagai Kitab Suci bagi orang Islam mempunyai banyak keutamaan. Diantaranya:

a. Al-Quran adalah kalam (perkataan) Allah.

Itu berarti perkataan yang paling benar dan tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya. Allah berfirman: ”Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari perkataan Allah? ”( QS;An-Nisa 87,122).

b. Petunjuk dan kasih sayang (rahmat) bagi orang yang bertakwa.

Allah berfirman: ”Sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa”( QS: Al-Baqarah 2). Dalam ayat lain “Sebagai petunjuk dan kasih sayang bagi orang-orang yang beriman”( QS : Yunus 57). Kasih sayang dalam arti tidak mau menyia-nyiakan hambanya dan jatuh dalam kesesatan.

c. Obat dan penenang hati.

Allah berfirman: ”Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang mengobati dan kasih sayang bagi orang yang beriman”( QS: Al-Isra 82).

Dalam ayat lain Allah befirman: ”Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu mauizha (nasihat) dari Tuhanmu dan Penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”( QS : Yunus 57).

d. Al-Quran mencakup segala sesuatu.

Allah berfirman: ”Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab ini (Al-Quran), kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”( QS: Al-An’am 38). Maksudnya Al-Quran mencakup hukum (halal dan haram), kisah, berita gaib, nasihat-nasihat, perumpamaan-perumpaan, bahkan mencakup kaidah-kaidah ilmiyah yang tetap (pasti). Seperti teori yang mengatakan bahwa manusia semakin berada jauh di langit semakin kekurangan oksigen. Allah berfirman “Barang siapa yang kehendaki untuk diberi petunjuk maka akan tenangkan hatinya dan barang siapa yang kehendaki untuk disesatkan maka akan jadikan hatinya sempit seperti dia ketika naik ke langit QS:Al-An’am 125.

Allah juga berfirman: ”Dan Kami turunkan kepadamu Muhammad Kitab (Al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu”( QS: An-Nahl 89).

Ini adalah sebagian keutamaan Al-Quran. Banyak lagi keutamaan-keutamaan lain yang belum teruraikan.

3- Sikap Muslim terhadap Al-Quran

a- Membaca Al-Quran.

Rasulullah SAW bersabda: ”Bacalah Al-Quran maka sesungguhnya Al-Quran akan menjadi pemberi syafaat untuk ahlinya (pembacanya) di hari kiamat. Beliau juga bersabda: “ Akan dikatakan kepada Ahli Al-Quran di hari kiamat: Bacalah Al-Quran dan naiklah tingkatan-tingkatan (tangga-tangga) surga serta bacalah dengan tartil (membaca dengan cepat dan memperhatikan hukum bacaan Al-Quran) sebagaimana kamu membacanya di dunia karena sesungguhnya kedudukanmu berada di akhir ayat yang kamu baca.

b- Menghafal Al-Quran.

Wajib bagi orang Muslim untuk menghafal Al-Quran baik seluruhnya atau sebagiannya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang tidak ada didalam hatinya sedikitpun dari Al-Quran seperti rumah yang roboh”.

c- Tadabbur Al-Quran.

Artinya merenungi kandungan Al-Quran ayat per-ayat dengan tujuan memberikan protect diri dari segala apa yang dilarang . Allah Berfirman: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, atau hati mereka telah terkunci ”( QS:Muhammad 24).

Allah berfirman dalam ayat lain: ”Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran?, Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”( QS:An-Nisaa 82).

d- Mengamalkan Al-Quran.

Setelah membaca, menghafal dan mentadabbur Al-Quran langkah terakhir yang harus ditempuh adalah mengamalkan Al-Quran. Dengan mengamalkan Al-Quran berarti mengamalkan ajaran islam itu sendiri. Aisyah berkata: ”Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran”. Al-Quran yang kita pelajari dan baca tidak akan lengkap kecuali mengamalkannya karena Al-Quran di hari kiamat bisa menjadi penolong atau penghujat kita, dalam artian Al-Quran yang kita baca, kita fahami dan tidak kita amalkan akan menjeremuskan kita ke neraka. Rasulullah bersabda: “Dan Al-Quran akan jadi penolong kamu atau penghujat kamu”.

Empat sikap ini harus dimiliki oleh orang Islam agar Al-Quran selalu menjadi panutan dan tuntunannya. Memperingati nuzul Al-Quran berarti memperingati diri kita terhadap Al-Quran. Sejauh mana kita telah membaca Al-Quran, sejauh mana kita telah menghafal Al-Quran, sejauh mana kita mentadabburi Al-Quran, sejauh mana kita mengamalkan Al-Quran. Memperingati nuzul Al-Quran berarti men-introspeksi diri, apakah perbuatan kita sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Quran. Marilah tingkatkan iman dan sikap kita terhadap Al-Quran semoga juga kita menjadi orang yang diridhai. Wallahu’alam bisshawab.